Minggu, 29 Januari 2012

RENUNGAN


                            
                                            

Orang Miskin

 

Sahabatku, banyak manusia yang berlomba-lomba dalam hal yang bersifat materi demi kelangsungan hidup yang lebih baik. Selain itu mereka mengharapkan tentang taraf hidupnya yang jauh dari kata miskin. Akan tetapi apakah dengan harta yang berlimpah dalam kehidupan seseorang serta merta membuat hati mereka juga kaya? Tentu tidak, harta yang melimpah belum tentu membuat hati seseorang ikut menjadi kaya. Menurut Imam Ghozali, seorang manusia dapat dikatakan kaya apabila hatinya lah yang kaya. Lantas bagaimana rupa dari hati yang kaya itu? Hati yang kaya adalah hati seorang manusia yang merasa cukup dan bersyukur atas segala nikmat Allah. Dengan demikian, apabila seseorang yang hatinya masih menginginkan sesuatu yang lebih dari nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya maka ia tergolong kepada orang-orang yang miskin.
Seorang yang kaya raya dalam hal materi belum tentu dapat dikatakan kaya apabila hatinya miskin. Seorang yang miskin adalah seseorang yang belum memiliki sesuatu yang diinginkannya. Sebagai contoh apabila seseorang yang telah memiliki harta yang berlimpah, ia memiliki 3 mobil di dalam garasi rumahnya. Akan tetapi hatinya mengatakan bahwa ia masih ingin memiliki mobil keluaran terbaru sebanyak 2 buah lagi dan hal tersebut belum dapat terpenuhi, maka ia tergolong dalam orang miskin dikarenakan hatinya yang tidak kaya. Sebaliknya orang yang tergolong miskin secara materi belum tentu dapat dikatakan miskin apabila ia memiliki hati yang kaya. Apabila ia merasa cukup dan bersyukur atas segala nikmat pemberian Allah kepadanya, maka senantiasa hatinya akan menjadi kaya. Dan itulah kekayaan yang hakiki.
Harta hanyalah sebuah metode pengukuran tingkat hidup secara tradisional dan kuno. Dikatakan kuno atau terbelakang hanya dikarenakan harta hanyalah berguna untuk hal-hal yang bersifat duniawi. Sedangkan metode ukur yang jauh lebih maju dan modern adalah HATI. Hati senantiasa menemani seorang hamba Allah yang taat dari dunia hingga akhirat. Rasulullah bersabda bahwa ada segumpal daging dalam diri manusia yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu adalah hati. Maka dari itu, hendaknya seorang hamba yang ingin mendapatkan ridho dari Allah selalu menjaga hatinya untuk bersifat qanaah. Ia akan selalu merasa berkecukupan dalam segala aspek. Ia tidak akan banyak menuntut dikarenakan hatinya telah merasa cukup atas nikmat Allah yang amat sangat melimpah ruah atas diriniya. Bukankah satu nikmat nafas jauh lebih berharga dari segenggam permata yang paling indah?
Apabila kita ingin menjadi orang yang kaya dihadapan Allah, isi dan penuhi hati kita dengan sifat qanaah dan jalani hidup ini senantiasa dengan beristiqomah kepada Allah SWT.
Semoga dengan menempuh jalan yang lurus kita akan mencapai ridho Allah.
Insya Allah, Amin ya Robbal Al Amin..


Pertolongan Allah

 

Allahu Akbar, zat yang menguasai semesta alam yang maha pengasih lagi maha penyayang. Seorang yang mengaku bahwa dirinya seorang muslim tentunya sudah pasti tahu akan hal itu, tetapi apakah mereka benar-benar yakin atas pengetahuan mereka tersebut ? Apakah pernah mereka duduk bersimpuh untuk sekedar mengadu tentang segala permasalahan dirinya? Apabila mereka benar-benar yakin atas pernyataan tersebut, tentunya mereka tidak akan meminta pertolongan atas setiap permasalahan dirinya kepada selain Allah. Baik itu manusia lain, terlebih lagi kepada benda-benda yang sudah tentu tidak dapat memberikan syafaat apapun kepada mahluk hidup. Jadi sebaik-baiknya pertolongan adalah pertolongan Allah, dikarenakan segala cobaan dan ujian hanyalah bersumber kepada Allah yang Maha Agung dan segala penyelesaian juga bersumber kepada-Nya.
Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, khususnya umat Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan kali ini adalah apakah di dalam Al Qur’an dijelaskan petunjuk tentang jalan keluar dari segala permasalahan kita? Jawabannya adalah iya, di dalam Al Qur’an telah diajarkan tata cara meminta pertolongan segala permasalahan kita melalui pertolongan Allah. Pada surat Al Baqarah ayat 1 – 5 telah dijelaskan bagaimana cara seorang muslim meminta pertolongan kepada sang Khalik.










Alif laam miim. (QS. 2:1)
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. 2:2)
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, (QS. 2:3)
Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. 2:4)
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. 2:5)
Dari ayat diatas dijelaskan pada ayat pertama, Alif laam miim. Ayat tersebut sering juga dikenal dengan ayat-ayat mutasyabihaat yang sebagian ahli tafsir menafsirkan sebagai ayat yang berguna sebagai penarik perhatian orang yang membacanya agar memperhatikan petunjuk yang akan diberikan dari Al Qur’an.
Pada ayat kedua dikatakan bahwa tidak adanya keraguan didalam Al Qur’an ini, yaitu kitab yang merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi apabila kita sebagai seorang muslim ingin mendapatkan petunjuk dari Al Qur’an yang merupakan kitab yang tidak diragukan lagi kebenarannya, kita harus benar-benar beriman dan bertaqwa. Taqwa dalam artian yakin dan sungguh-sungguh melaksanakan perintah di dalamnya dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah dan tertulis di dalamnya pula.
Lalu apa saja yang harus dilakukan oleh kita sebagai seorang muslim agar dapat menjadi orang yang disebutkan pada ayat kedua tersebut? Di ayat kelima dijelaskan bahwa orang yang memperhatikan itulah orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. Dijelaskan bahwa hanyalah orang yang bertaqwa yang akan mendapatkan petunjuk dari Allah, dan terlebih lagi mereka adalah orang-orang yang beruntung. Alangkah bahagianya dan merupakan suatu idaman bagi setiap muslim untuk menjadi orang yang beruntung menurut Al Qur’an yang sudah dijamin kepastiannya oleh Allah.
Kemudian timbul lagi pertanyaan berikutnya, bagaimana cara yang harus ditempuh oleh seorang muslim agar mendapatkan petunjuk dari Allah? Hal tersebut dijawab oleh Allah melalui ayat yang ketiga, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Di ayat tersebut terdapat 3 langkah, yaitu :
1. Beriman kepada yang ghaib, hal ini sebelumnya telah diperjelas dengan adanya rukun iman yang mendasari kehidupan akhirat seorang muslim. Mengi’tikadkan dengan segala sesuatu yang maujud seperti halnya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, hari akhir dan sebagainya dengan berdasar dalil-dalil yang ada. Dengan mengimani yang ghaib, maka akan membangkitkan rasa takut akan ketentuan Allah apabila kita merasa melakukan kesalahan dikarenakan yakin bahwa Allah itu ada dan tahu akan segala gerak gerik kita di dunia.
2. Mendirikan sholat, tentunya ciri utama yang dimiliki oleh seorang muslim adalah sholat. Sholat yang merupakan tiang dari agama ini merupakan media penghubung antara seorang hamba dengan penciptanya, yaitu Allah SWT. Dengan sholat dan senantiasa berdoa kepada Allah akan memperjelas pengabdian diri kita kepada-Nya dan meningkatkan rasa rendah diri terhadap Allah.
3. Menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan kepada kita, dalam hal ini ditekankan pengertiannya kepada sedekah. Sedekah tidak hanya berdampak kepada orang-orang yang menerimanya seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain, akan tetapi nilai keikhlasan akan sedekah tentunya akan sangat berdampak besar tehadap diri kita sendiri. Dengan ikhlas dalam bersedekah sudah tentu akan menambah tingkat ketqwaan kita sebagai hamba yang memang tidak mempunyai daya dan upaya selain pemberian dan atas izin Allah.
Kemudian pada ayat keempat dijelaskan bahwa agar dapat bertaqwa dan mendapatkan petunjuk Allah adalah mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Dengan meyakini ayat keempat ini, kita senantiasa yakin bahwa Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-shuhuf yang tersebut dalam al-Qur’an adalah benar merupakan kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah dan disempurnakan dengan turunnya kitab yang terakhir, yaitu Al-Qur’an. Lalu dengan mengimani hari akhir, kita senantiasa yakin bahwa akan ada kehidupan yang kekal setelah kita mati. Akhirat merupakan tujuan akhir dari pencarian seorang muslim di dunia. Dengan meyakini hal itu, sudah tentu seorang muslim akan selalu memperbaiki diri dan senantiasa melakukan yang terbaik dalam menempuh jalan yang diridhoi Allah.
Sahabatku, dengan meyakini kelima ayat tersebut tentunya kita akan memperoleh kemudahan dalam mencari petunjuk Allah dan senantiasa menjadikan kita sebagai seorang muslim yang benar-benar bertaqwa kepada Allah. Dengan demikian, pertolongan apalagi yang akan kita harapkan selain pertolongan Allah. Bukankah Allah merupakan sumber penyelesaian dari segala masalah kita? Sehingga hanya dengan melalui pertolongan Allah lah kita akan menyelesaikan segala permasalahan kita dengan mudah. Sebagai seorang hamba, kita benar-benar tidak memiliki daya apapun untuk melakukan sutau hal kecuali atas izin dan pemberian dari Allah. Maka dari itu, marilah kita senantiasa memperbaiki diri kita sehingga pertolongan-pertolongan Allah itu akan lebih mudah kita terima.
Semoga kita menjadi salah satu hamba Allah yang bertaqwa dan mendapatkan petunjuk dari Allah,
Insya Allah, Amin ya Robbal Al Amin…

Muhasabah

 


 Gajah di pelupuk mata tak kelihatan, itulah sifat manusia pada umumnya. Sibuk untuk mengoreksi orang lain, terlebih memperbincangkan dan memperoloknya dengan orang lain. Disisi lain, dirinya sendiri yang masih berlumuran dosa pun diacuhkan. Apabila kita masih gemar melakukan ghiba dapat dipastikan bahwa kita merupakan golongan orang yang merugi dan jauh dari hati yang bersih.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat:12)
Sebagai seorang muslim yang senantiasa ingin mendekatkan diri kepada Allah demi mengharapkan ridho-Nya, tentunya akan menjaga kebersihan hatinya. Sudah semestinya kita mempererat hubungan kita dengan sesama manusia (Hablum minannaas) terlebih lagi orang tersebut adalah saudara seiman kita demi mempererat hubungan kita kepada Allah (Hablum minallah). Menutupi kesalahan diri sendiri dengan menggunakan kesalahan orang lain merupakan cara yang salah agar kita tidak melakukan kesalahan.
Rasulullah SAW. bersabda “Berbahagialah orang yang diingatkan oleh aibnya sendiri, daripada aib orang lain”.
Berdasarkan hadist tersebut terlihat jelas bahwa muhasabah jauh lebih baik dibandingkan dengan bersusah payah untuk mengoreksi orang lain. Dengan ber-muhasabah, diri kita akan memperhatikan setiap detail dari dosa-dosa yang telah kita lakukan dan dengan mengoreksi diri  kita senantiasa akan terhindar untuk jatuh pada kesalahan yang sama sehingga  dapat meningkatkan iman kita dan membangkitkan rasa takut terhadap ketentuan Allah mengenai dosa yang telah kita perbuat. Jangan mengikuti hawa nafsu yang selalu ingin meneliti aib orang lain, karena jika hawa nafsu sudah merajalela maka kita pun akan kehilangan rasa takut terhadap Allah disebabkan meremehkan kesalahan kita sendiri, apalagi terhadap hukum Allah.



Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Naazi’at:40-41)
Hawa nafsu merupakan sumber dari aib pada diri kita, maka dari itu apabila kita ingin memelihara diri kita tekanlah sekuat-kuatnya nafsu yang akan menghilangkan rasa takut kita terhadap Allah. Seorang muslim taat tentunya akan memelihara rasa takut kepada Allah, karena rasa takut terhadap Allah merupakan suatu pondasi awal untuk membangun kerangka yang kokoh bagi iman seorang muslim yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya.
Semoga kita merupakan manusia yang senantiasa bermuhasabah sehingga dapat menghadirkan rasa takut kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar